31 Desember 2008
Reff Tanpa Lagu
Kapan kembali
Menanti dirundung sepi
Menentang harap darinya
Yang mengusik tanya
Terendap naifku
Yakinkah jalan yang kau tuju
Sepi kian menjadi
Jadilah terang lagi
18 Oktober 2008
Bingkisan Kecil Untuk Bu Mus
Mereka tengah berlari
Menebar warna-warni
Mengutak-atik mimpi
Malam Terpejam
Seribu haru menelusup akal sadarku
Terbersit serupa wajah yang telah punah
Tak ada kata yang mengilhami
Tak lagi tersentuh bait-bait puisi
Biarkan waktu mengabadikan perubahan
Dan pilihan mengajarkan kesabaran
Nafasku kan tetap berderap dalam harap
Untuk bertahan...
Atau menerobos tabir kelam
LAWU II
Mendung terseok menabir bulan hingga sendu
Hawa dingin tertunduk
Getir dunia menjelaga bersama waktu
Punahlah...
Meredalah...
Aku ingin merubah arah
14 September 2008
Cinta Yang Berbeda (dedicated to my father)
Masih tentang cinta yang ternafaskan
Tak terucap, namun tereja dengan setia
Ketika kembaraku menemukan arti berjuta cinta dari setiap hati manusia
Akupun mengerti arti cintamu
Maaf ku haturkan dari dasar cinta terdalam
Sembari menyapa rindu untuk kekosongan yang sekian lama tak terusik kata
Cinta kita bukan kata, aku mengerti itu
Cinta kita adalah kepedulian yang terwujud dengan pedang
Aku bangga tercipta sebagai cintamu
Dan kau tuliskan perang di dadaku...
Antara 2 Kata
Dan sekeping rindu karam di dasar telaga air mata
Terlebur dan membatu di pekatnya duka
Setiap nafas terhelai hampa
Suci cahaya terenggut gulita
Jurang tercipta diantara dua kata
Membentang sejauh rindu memeka
Hanya mampu bersimpuh dibalik gulita
Berharap mimpi menerka
Membaurkan fatamorgana atas nama cinta
05 Juli 2008
LAWU 1
Aku rindu dingin nafasmu
Aku rindu putih kabutmu
Aku rindu elok senjamu
Ah, aku rindu...
04 Juli 2008
Kedatangan Cinta
Dalam bentuk yang abstrak
Yang mereka namakan, Cinta
Sanggupkah aku merasakannya?
Bila satu keajaiban datang
Menentang resahnya kenyataan
Sanggupkah kesepian mengerti
Langkahku tak lagi bersamanya
Namun, aku yakin
Selalu ada pagi untuk malam yang mencekam
Yang mengatakan dengan lembut pada jiwa yang terjaga,
” Ada harapan, bersamamu”
Dengan itu aku tak lagi menjadi lelaki yang takut pada mimpi
Bersamanya rasa yang kasat itu ada
Dengannyalah Cinta itu ada...
18 Juni 2008
Dilema 22:14
dari lubang rindu yang dalam
Kelak memupuskan segenggam santunan
gulita
Tak ada arti dari sebuah ketiadaan,
dan kau percaya titahnya
Izinkan aku memohon untuk artimu
Dalam nafas dan peraduan malam
Oh, Tuhan...
Apa yang telah merubahnya?
16 Juni 2008
Teruntuk Ibuku
Deru nafas jalanan
Angan dan bising setan memeka
Ada apa dengan jasadku?
Segerombol kupu-kupu terbang
Membias aurora lalu terkapar di dadaku
Masih ku genggam rindu itu
Sedang di ujung sana
Dalam wangi doa tertetes kesturi surga
Ku dengar jua derap langkahmu
Menembus sepertiga terakhir malam
Menemuiku dalam sujud kusyukmu
Lalu menguntai satu demi satu kata tersuci
Dalam tasbih dan lelehan air mata
Kau ramu pula segala harapan
Telah kau serahkan semua untukku
Tak tersisa
Hanya untukku...
08 Juni 2008
Percakapan Dengan Luna
Aku menunggu sedari senja
Bersama angin dan kesaksian tembaga,
akan realita kebesarannya
Ku hirup nafas sedalam rindu
Cemas akan harap yang tak kan bertemu…
Luna, alam mulai berpuisi
Tentang sahaja beserta kebijakan pencipta
Dan di dalamnya tersebut namamu
Sama akan jiwaku,
merindunya di bawah temarammu…
Sepi Sendiri
Sepi…
Maka tak dapat ku dengar lagi riuh senandung mimpi
Pada siapa ku bagi segala beban?
Jika sepenuh hati tak lagi memiliki
Setelah badai datang dan mencuri pelangi
Yang ku harap hanya langit biru di matamu
Memancarkan sejuk embun yang bertahta di daun teh pagi itu
Sampai kapankah kau memudar?
Dilukai hari yang beranjak pelan
Mampukah puisiku menghapus kerinduanmu?
Jika sekeping hati telah karam bersama sirnamu…
Tangisan Pagi
Apakah kini berarti?
Sebijak doa yang terucap
namun terhempas kemunafikan
Lorong kosong, gelap pekat
Dan deretan dosa disitu kau ada
Keyakinan dapat berubah secepat hari
Sorot matapun kian mendendam,
menenggelamkan ambang batas ketegaran
Cukup sekali aku berharap
Dengan kesaksian air mata
dan pagi yang sunyi
Hakikat Suci Seorang Ibu
Memberi hari untuk berkarya
Dengan setulus cinta
dan kerelaan rindunya
Seorang ibu adalah senja
Memadamkan gelora kepenatan
Dengan keindahan senyum
dan kekuatan nalurinya
Seorang ibu adalah malam
Menyirami bunga tidur dengan khusyuk do’a
Menyelimuti jiwa bersama cintanya
Seorang ibu adalah pagi
Meneteskan embun dalam bisik sunyi
Membuatku terjaga
dan beranjak berkarya lagi
Seorang ibu adalah hari
Ada dalam setiap helai nafas
Detak jantung
Harapan
Cinta…
Ada diantara rintik hujan
Desau angin
Hangat mentari
Indah pelangi
Dan segala rupa keindahan surgawi
Selamat Hari Lahir
Ketika metamorfosa waktu beranjak dari tangis pertamamu
Hari ini masih sama dengan hari itu
Ketika hawa dunia pertama kali kau hirup
Semua masih akan tetap sama
Dengarlah derap waktu
Dengarlah detik yang terangkai menjadi alunan merdu
Yang mengantarmu menuju 19 tahunmu
Dengan berpegang pada keyakinan persahabatan
Aku haturkan selamat untukmu
Selamat hari lahir sahabatku
KITA
Ketika senja telah mengepakkan sayap tuanya
Dan bebatuan seolah berbisik tentang jejak memori kita
Satu per satu dari kitapun beranjak terbang
Menembus cakrawala yang teramat indah
Seindah mimpi yang tersirami air mata
Terpupuk doa
Dan bersemi menjadi warna-warni cinta
Lagu kita akan terus menggema
Bersama cendawan dan semilir angin kehidupan
Kita telah membatu…
[24 Maret 2008]
Perjamuan Sepi
Ketika semakin tak sadarkan diri dibuai fantasi
Melambung tinggi lalu terkapar mati
Dadaku kian sesak menahan perih ini
Kehilangan sendiri meratapi ironi
[17 Februari 2008]
Syair Getir
Mengharap bintang terperangkap disini
Perlahan hangat fajar menghantam tubuh
Bangkitkan obsesi sekali lagi
Masih ada satu kesempatan mengubah takdir
Di pucuk sana matamu menanggung duka
Dusta dan berhala kian posesif
Tak ingin patah hati
Hanya dia yang miliki
Pilar absurditas berdiri tegak
Menopang gulana di ujung gulita
Doa yang terucappun kian serak
Tercabik jiwa oleh derita
Sudahlah,
Semua hanya epos anak manusia
Yang ketheisan masih berdegup di dadanya
Membiru menuju kodrat primordialnya
[5 Maret 2008]
Tulang rusukku kah?
Tapi tak ingin seperti embun pagi
Menanti pendar fajar dan memudar
Bukan sia-sia yang ku perjuangkan
Jika hadirmu adalah serbuk sari
yang menebar cinta-Nya
Aku akan bersujud
dan memohonkan namamu
Dalam setiap keheningan
[13 Maret 2008]
Ujung Hari
Menunggu nafas terhempas menepi
Cahya matanya tak sebening dahulu
Teramat banyak huruf yang mengeras di ulu hati
Jika kinipun telah berakhir
Masihkah ada keharusan untuk berakhir
[18 Maret 2008]