08 Juni 2008

Percakapan Dengan Luna

Luna, apa kau dengar?
Aku menunggu sedari senja
Bersama angin dan kesaksian tembaga,
akan realita kebesarannya

Ku hirup nafas sedalam rindu
Cemas akan harap yang tak kan bertemu…

Luna, alam mulai berpuisi
Tentang sahaja beserta kebijakan pencipta
Dan di dalamnya tersebut namamu
Sama akan jiwaku,
merindunya di bawah temarammu…

Sepi Sendiri

Disaat keheningan datang
Sepi…
Maka tak dapat ku dengar lagi riuh senandung mimpi
Pada siapa ku bagi segala beban?
Jika sepenuh hati tak lagi memiliki

Setelah badai datang dan mencuri pelangi
Yang ku harap hanya langit biru di matamu
Memancarkan sejuk embun yang bertahta di daun teh pagi itu

Sampai kapankah kau memudar?
Dilukai hari yang beranjak pelan

Mampukah puisiku menghapus kerinduanmu?
Jika sekeping hati telah karam bersama sirnamu…

Tangisan Pagi

Air mataku…
Apakah kini berarti?
Sebijak doa yang terucap
namun terhempas kemunafikan
Lorong kosong, gelap pekat
Dan deretan dosa disitu kau ada
Keyakinan dapat berubah secepat hari
Sorot matapun kian mendendam,
menenggelamkan ambang batas ketegaran
Cukup sekali aku berharap
Dengan kesaksian air mata
dan pagi yang sunyi

Hakikat Suci Seorang Ibu

Seorang ibu adalah siang
Memberi hari untuk berkarya
Dengan setulus cinta
dan kerelaan rindunya

Seorang ibu adalah senja
Memadamkan gelora kepenatan
Dengan keindahan senyum
dan kekuatan nalurinya

Seorang ibu adalah malam
Menyirami bunga tidur dengan khusyuk do’a
Menyelimuti jiwa bersama cintanya

Seorang ibu adalah pagi
Meneteskan embun dalam bisik sunyi
Membuatku terjaga
dan beranjak berkarya lagi

Seorang ibu adalah hari
Ada dalam setiap helai nafas
Detak jantung
Harapan
Cinta…

Ada diantara rintik hujan
Desau angin
Hangat mentari
Indah pelangi
Dan segala rupa keindahan surgawi

Selamat Hari Lahir

Ingatkah kau akan hari ini
Ketika metamorfosa waktu beranjak dari tangis pertamamu
Hari ini masih sama dengan hari itu
Ketika hawa dunia pertama kali kau hirup
Semua masih akan tetap sama
Dengarlah derap waktu
Dengarlah detik yang terangkai menjadi alunan merdu
Yang mengantarmu menuju 19 tahunmu
Dengan berpegang pada keyakinan persahabatan
Aku haturkan selamat untukmu
Selamat hari lahir sahabatku

KITA

Bawa aku berpetualang bersama mimpi dan harapan
Ketika senja telah mengepakkan sayap tuanya
Dan bebatuan seolah berbisik tentang jejak memori kita
Satu per satu dari kitapun beranjak terbang
Menembus cakrawala yang teramat indah
Seindah mimpi yang tersirami air mata
Terpupuk doa
Dan bersemi menjadi warna-warni cinta

Lagu kita akan terus menggema
Bersama cendawan dan semilir angin kehidupan

Kita telah membatu…

[24 Maret 2008]

Perjamuan Sepi

Ijinkan aku undur diri dari perjamuan sepi
Ketika semakin tak sadarkan diri dibuai fantasi
Melambung tinggi lalu terkapar mati

Dadaku kian sesak menahan perih ini
Kehilangan sendiri meratapi ironi

[17 Februari 2008]

Syair Getir

Seolah merenda jaring laba-laba di temaram sunyi
Mengharap bintang terperangkap disini
Perlahan hangat fajar menghantam tubuh
Bangkitkan obsesi sekali lagi
Masih ada satu kesempatan mengubah takdir

Di pucuk sana matamu menanggung duka
Dusta dan berhala kian posesif
Tak ingin patah hati
Hanya dia yang miliki

Pilar absurditas berdiri tegak
Menopang gulana di ujung gulita
Doa yang terucappun kian serak
Tercabik jiwa oleh derita

Sudahlah,
Semua hanya epos anak manusia
Yang ketheisan masih berdegup di dadanya
Membiru menuju kodrat primordialnya

[5 Maret 2008]

Tulang rusukku kah?

Aku menunggu
Tapi tak ingin seperti embun pagi
Menanti pendar fajar dan memudar
Bukan sia-sia yang ku perjuangkan
Jika hadirmu adalah serbuk sari
yang menebar cinta-Nya
Aku akan bersujud
dan memohonkan namamu
Dalam setiap keheningan

[13 Maret 2008]

Ujung Hari

Di ujung hari
Menunggu nafas terhempas menepi
Cahya matanya tak sebening dahulu
Teramat banyak huruf yang mengeras di ulu hati
Jika kinipun telah berakhir
Masihkah ada keharusan untuk berakhir

[18 Maret 2008]